Tes PCR Terhadap Perjalanan Luar Kota

Penulis : Jovanka Lomi & Agnes Meliani | Editor: Andrea Avelina Eren Prameswari


MAUMERE, ZKEPTIC - Kantor Badan Pengelolah Keuangan dan Aset Kabupaten SIKKA, Jalan Kartini, Sinameluk, Kota Maumere, Nusa Tenggara Timur, Rabu (27/4/2022).


Semenjak adanya pandemi di Indonesia, Pemerintah mewajibkan adanya Tes PCR dan Antigen untuk pelaku perjalanan luar kota. Seperti para Pejalan dinas dan Traveler. Adanya hambatan akan aktivitas yang biasanya mereka lakukan akibat pandemi. Dimana mereka tidak bisa bergerak bebas seperti sebelum adanya pandemi. Karena pembatasan larangan perjalanan, aturan ketat pemerintah, dan juga persyaratan wajib Tes PCR dan Antigen.

Baru-baru ini Pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan atau aturan baru mengenai Tes PCR dan antigen. Dimana kebijakan baru ini berisi tentang penghapusan Tes PCR dan Antigen untuk Perjalanan Luar Kota dengan persyaratan sudah Vaksin dosis 3. Keputusan pemerintah mencabut kewajiban PCR dan antigen jelas mempertimbangkan cakupan vaksinasi COVID-19 secara nasional. Akan tetapi adanya Pro dan Kontra dari kebijakan baru yang telah dikeluarkan pemerintah ini. 


bersama Sekretaris BPKAD SIKKA, Bapak Putu Botha 
,

Berdasarkan pernyataan dari Bapak Putu Botha, Sekretaris BPKAD Kab.SIKKA, salah satu pelaku perjalanan dinas. “Terhadap pandemi pastinya di awal adanya pembatasan larangan perjalanan dari pemerintah, namun seperti yang telah kita ketahui bahwa pemerintah telah mengeluarkan kebijakan baru mengenai penghapusan Tes PCR dan Antigen. Tanggapan saya secara pribadi terkait kebijakan baru ini artinya pemerintah sukses melindungi warganya dari virus ini. Penghapusan tes PCR itu artinya progress pemerintah untuk melakukan vaksin berhasil. Sehingga untuk sekarang ini covid dianggap hanyalah sebuah endemic saja, bukan lagi wabah yang menakutkan melainkan hanyalah flu biasa. Ini salah satu keberhasilan yang cukup memuaskan untuk banyak orang termasuk saya pelaku perjalanan dinas.” katanya.

Kemudian saya melontarkan pertanyaan kepadanya, bahwa apakah sebaiknya Tes PCR itu tetap diadakan saja atau tidak. “Sebaiknya tidak perlu karena memang kemarin di kantor ini di anjurkan untuk mengadakan alat tes PCR dan Antigen, cuman kita tidak setuju karena adanya pertimbangan teknis teman-teman dinas Kesehatan sehingga tidak di adakan di kantor ini. Jadi menurut saya tidak perlu lagi adanya tes PCR dan Antigen, karena sudah ada keberhasilan vaksin. Vaksin sudah memberi efek yang bagus seperti misalnya dengan vaksin meningkatkan ketebalan tubuh, sehingga rentan mengalami kekurangan imun dalam tubuh yang memicu terserangnya virus corona. Dan lebih mengurangi pengeluaran juga.” katanya. 


Proses Wawancara dengan Bapak Putu Botha,Sekretaris BPKAD Kab.Sikka, Selaku Perjalanan Dinas

Lalu saya meminta Bapak Putu Botha selaku perjalanan dinas memberikan harapannya mengenai kebijakan baru dari pemerintah ini. “Harapan saya sebagai pelaku perjalanan dinas sebaiknya kita pemerintah mulai berpikir terhadap pengadaan tes pcr dan antigen untuk mengalihkan anggaran tersebut untuk kebutuhan prioritas masyarakat. Akan lebih baik digunakan untuk masyarakat yang masih berkekurangan saja.” katanya. 

Dapat dilihat bahwa Bapak Putu masuk dalam kategori yang Pro terhadap Kebijakan baru pemerintah ini, dilihat dari sudut pandang Pelaku perjalanan dinas. Selain dari pelaku perjalanan dinas, saya mencoba mencari sudut pandang yang berbeda dari seorang Traveller.


Zoom - (30/4/2022) Menurut Stefani Adijaya, Mahasiswi Petra, seorang Traveler. “Kalo diliat dari segi keuangan atau ekonomi dan prosesnya ,menurutku emang ribet karena kalo mau berpergian tuh kan wajib Tes PCR kan,mana tes pcr tuh kan mahal ya, terus kita harus luangin waktu untuk PCR lagi yang halangin kegiatan lain. Cuman menurutku lebih aman sih sebenernya walau ribet dan mahal. Karena vaksin tuh kan belum tentu ya, kan jangka waktunya udah lama juga, kalo PCR kita bisa tau kondisi kita saat itu. Jadi walaupun udah vaksin belum tentu juga kita ga nularin virus itu. Jadi aku pro dan kontra.” Katanya.




Proses Wawancara, Via Zoom (30/4/2022)

Selain memberi sudut pandang yang berbeda Stefani juga memberikan harapannya terkait Kebijakan baru Pemerintah ini. “harapan aku sih dari adanya peraturan baru ini lebih ke arah masyarakatnya langsung, secara pelakunya kan masyarakat. Kadang masyarakat suka langgar prokes. Jadi harapannya, ini sudah dikasih kemudahan dari pmrintah, aku harap masyarakat punya kesadaran secara pribadi. Jadi saat di kasih kelowongan jangan smpe abuse gitu, malah seenaknya. tapi harus berusaha jaga kepercayaan pemerintah dengan taat prokes, biar penularan virus tidak lagi meningkat,” Katanya.


Banyak traveler yang senang melakukan perjalanan untuk sekedar refreshing, tetapi setelah adanya Covid-19 yang menyebabkan adanya pandemi untuk mengurangi jumlah korban yang terkena Covid-19. Dengan adanya pandemi banyak traveler dan pejalan bisnis yang harus menunda perjalanan mereka.

Dengan adanya tes PCR dan Antigen membuat beberapa traveler dan pejalan bisnis yang harus menunda perjalanan mereka menjadi bisa tetap melakukan perjalanan dengan melakukan tes PCR dan antigen yang diwajibkan secara khusus agar bisa mengetahui apakah kita tertular Covid-19 atau tidak. 

Dari dua orang yang saya interview mereka sama sama setuju agar pemerintah tetap mengadakan wajib PCR dan Antigen agar kita bisa menghindari orang orang yang terkena Covid-19, akan tetapi tes PCR dan Antigen harus disiapkan oleh pemerintah sendiri, karena harga Tes PCR dan Antigen terlalu mahal untuk masyarakat.


Proses Interview Traveler, Melisa


Proses Interview Traveler , Mesakh.

Komentar