Penulis : Nethania Regine | Editor : Tirza Larasati
SURABAYA, ZKEPTIC - Menjaga mental tetap stabil di tengah kelas yang berlangsung secara online dan tantangannya di kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang mudah. Banyak mahasiswa yang merasa tertekan karena harus berhadapan dengan layar setiap hari, setiap saat. Mahasiswa semester genap yang turut merasakan kelas online adalah mahasiswi President University (PU), Aurelia Gunawan.
![]() |
| Aurelia Gunawan saat di wawancarai oleh reporter ZkeptiC |
“Menjadi mahasiswi Fikom di President University sebenarnya cukup mengejutkan untuk aku pribadi. Di satu sisi merasa senang karena bisa mendalami jurusan ini. Tetapi sejauh ini menjadi anak Fikom masih bisa dikatakan santai, walaupun tidak terlalu santai. Lelah dan stress yang dirasakan masih bisa teratasi, 50/50 deh,” ujar Aurelia mengenai kesan menjadi anak Fikom selama dua semester.
Berbeda dengan SMA, beberapa hal bisa membuat para mahasiswa baru (MaBa) culture shock dengan sistem dan gaya belajar di perkuliahan. Setiap individu akan memberikan respon yang berbeda-beda. Terutama bagi yang merasakan perkuliahan daring.
“Pada awal masuk kuliah aku merasakan tekanan, karena pertama kali kuliah tiba-tiba online. Menurut aku pribadi seharusnya di lingkungan baru kita bisa beradaptasi, ibarat seperti waktu SMA. Dulu kelas 2 SMA offline dan kelas 3 pandemi jadi harus online, tetapi transisi itu masih di ruang lingkup yang sama. Namun saat ini sudah memasuki kuliah, otomatis lingkungan dan keadaan juga baru. Pada waktu awal kuliah sempat merasa tertekan karena di PU semua kelas dan tugas-tugasnya berbahasa Inggris,’ kata Aurel.
Aurel juga meminta untuk tetap perhatian pada diri sendiri dalam kondisi seperti ini dan mencari solusi yang cocok untuk diri sendiri. Salah satunya adalah aware dengan batasan diri dengan tidak terlalu memaksakan diri dan tidak merasa fear of missing out (FOMO) jika tidak mengikuti kegiatan sebanyak orang lain.
Walaupun bertemu secara virtual, namun pada realita nya seluruh kegiatan yang dilakukan tetaplah sendiri dan interaksi yang ada hanya sebatas dengan layar. Terlalu sering berinteraksi dengan layar dapat membahayakan diri karena burnout dan Zoom fatigue bisa dikatakan ‘kawan sehari-hari’. “Kalau terlalu lama lihat layar juga bisa menyebabkan Zoom fatigue jadi setelah kelas online atau meeting online, usahakan tidak kontak dengan device dan melakukan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan layar sekaligus mengistirahatkan mata. Aku beruntung di kuliah ini bisa bertemu teman-teman yang suportif untuk menjadi support system ku,” ucap Aurel.
Tidak hanya pengalaman dari Aurelia Gunawan, Revany Angelia, yang merupakan salah satu mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi dari Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya (UNTAG) juga membagikan pengalamannya terkait kelas online. Memang pada awalnya terasa sulit karena di jurusan Ilmu Komunikasi harus bisa percaya diri berbicara di depan umum. Sedangkan selama pandemi, jarang sekali bersosialisasi yang mengakibatkan tingginya tingkat ketidakpercayaan diri ketika berbicara di depan umum.
Revany menuturkan jika Ia pribadi lebih menyukai kelas offline karena meminimalisir adanya miskomunikasi, lebih menyenangkan karena interaksi dengan orang lain lebih mudah dan bisa membangkitkan kepercayaan diri. “Kalau offline bisa langsung berinteraksi sama teman, lebih paham materi, lebih fokus juga. Tidak seperti online yang cuma bisa mendengarkan dosen ngomong tapi tidak paham materi.” ucapnya.
Menurut Dosen Psikologi Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Liestyaningsih, ada alasan mengapa sebanyak 55% mahasiswa di Indonesia merasakan stres ketika kelas online yaitu, kegiatan online yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya persiapan dalam pribadi masing-masing orang.
![]() |
| Liestyaningsih saat di wawancarai oleh reporter ZkeptiC |
“Jadi memang online ini sesuatu yang tiba-tiba datang nya karena pandemi, sehingga tidak semua orang siap (salah satunya mahasiswa). Biasanya bertemu teman, guru, dan dosen secara langsung, tetapi tiba-tiba harus berada di rumah setiap hari, dan tidak semua orang nyaman dengan itu. Tidak sedikit juga yang kemudian menjadi dampak psikologis bagi beberapa mahasiswa.” jawab Liestyaningsih.
Dosen Psikologi Komunikasi ini juga mengatakan cara menyikapi hal tersebut berbeda-beda, mahasiswa berada di range usia dewasa atau remaja akhir yang secara psikologis ada di perbatasan yang sebenarnya ingin bersosialisasi namun harus berada di rumah dengan minim sosialisasi dan menyebabkan kesehatan mental terganggu. Belum tentu juga dalam satu rumah, setiap anggota keluarga bisa melakukan sosialisasi dengan baik.
“Bisa saja karena orang tua terlalu keras, kondisi rumah yang tidak memungkinkan, tidak semua anak mempunyai kamar sendiri,” jelas Lies saat diwawancarai reporter ZkeptiC melalui Zoom Selasa (26/03/2022) mengenai faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental saat kelas online.
Tips and trick juga diberikan oleh Lies agar tidak mudah stres saat kuliah online. Jika kondisi rumah tidak nyaman untuk melakukan perkuliahan online, mahasiswa mungkin bisa menerima keadaan dan harus mencari solusi sendiri, karena yang tahu batasan tubuh kita adalah diri kita sendiri. Jika memang tidak diberikan kamar sendiri oleh orang tua, mahasiswa bisa meminta izin dengan keluarga untuk memberi waktu sendiri di kamar untuk kuliah.
Semuanya membutuhkan komunikasi, antara orang tua-anak dan anak kepada dirinya sendiri. Rekreasi, olahraga ringan, bersosialisasi dengan teman melalui handphone merupakan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendistraksi diri sendiri dari beratnya tugas perkuliahan. “Harus inisiatif, walaupun memang berat,” saran Lies. Memang semuanya harus seimbang, mulai dari kegiatan pendidikan atau hiburan untuk diri sendiri. Tidak bisa timpang tindih. Maka dari itu mulailah untuk mengenali kondisi diri sendiri.


Komentar
Posting Komentar