Dari Kacang Tanah Sampai Widya Mandala, Kisah si Alfin anak dari kota Ende

Penulis : Yosep Jehata | Editor : Monika Pramusti


Alfin Gebo saat diwawancarai oleh tim ZkeptiC

SURABAYA, ZKEPTIC - Bu….Bu…Bu tiket ku mana !! Teriak seorang pemuda yang sedang memanggil ibunya  dengan keras, dia nampak terburu-buru. Dari balik pintu kamar tiba-tiba seorang perempuan berlari menuju putra sulungnya, sambil menahan tangis ibunya berpesan “hati-hati ya nak disana, kita hanya penjual kacang tanah”

     Begitu kata  Alfin pemuda asal kota Pancasila, Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), waktu diwawancarai tim ZkeptiC. Pemuda yang lahir di Medan, 7 April 2000 merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Dengan tubuh besar, hitam manis, tinggi, terlihat sangat seram namun memiliki hati yang lembut. 

     Bercerita tentang keluh kesahnya menjadi anak rantau dan menjadi salah satu mahasiswa di Fakultas Ilmu Komunikasi (  FIKOM ), tidak seperti kebanyakan orang, Alfin tidak kepikiran untuk melanjutkan  studinya ke perguruan tinggi.Namun hal yang tak terduga terjadi ketika ia baru bangun dari tidur siangnya, ibunya memberikan kejutan berupa tiket pesawat ke Surabaya.



    saya tidak pernah mengira bisa kuliah di salah satu  kampus terbaik di Surabaya,  alias Widya Mandala kampus yang menjadi favorit bagi anak-anak muda, apalagi saya hanyalah anak seorang penjual kacang tanah dan sembako”.  Dengan segala keterbatasannya hidup di Flores, Laki-laki kelahiran Medan,7 April 2000 ingin membuktikan bahwa selama kita berjuang jalan menuju kesuksesan akan selalu ada”.  Ujar Alfin (23/05/22).

     Sebelum menjadi anak perantauan biasanya orang Flores memiliki kebiasaan untuk memberi makan kepada nenek moyang berupa sesajen, tujuannya agar dilindungi dan diberkahi setiap aktivitas saat ditanah orang. Namun yang dilakukan oleh Alfin sangat berbeda justru dia berlatih bergaul dan melatih public speaking 

    Dia mengatakan,“sebelum datang ke Surabaya ada beberapa hal yang saya  persiapkan paling utama itu  berlatih bergaul dengan orang lain, karena kebetulan saya orang sangat introvert, selain itu juga saya sesering mungkin berbicara menggunakan bahasa Indonesia biar tidak terjadi miss  kalo nanti punya teman orang jawa maupun luar jawa, karena kami orang flores lebih dominan menggunakan  bahasa daerah dibandingkan  bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari”.  ungkap  Alfin.

    Anak rantau pasti memiliki kejadian atau kenangan yang unik setiap datang ke kota baru, begitu juga yang dirasakan oleh Alfin, saat menginjakkan kakinya pertama kali di Surabaya.

     “Pertama kali saya di Surabaya saya merasa kagum sekaligus bingung, kagum melihat gedung yang tinggi, jalan yang lebar serta kendaraanya sangat banyak, kalau teman- teman tahu di flores  itu gak ada yang seperti itu. Waktu saya bingung mau tinggal dimana, karena tidak ada teman ataupun saudara saya yang tinggal di Surabaya. Untungnya ada seorang laki-laki tua yang membantu mencarikan tempat penginapan, sekaligus memesan Ojol untuk saya”. kata Alfin sambil tertawa.

    Menjadi mahasiswa semester empat sudah pasti telah melalui suka dan duka yang begitu banyak,katakan saja kehabisan uang, beras habis dan hutang menumpuk. Ditengah situasi serba kekurangan itu  tiba-tiba Alfin mendapat telpon dari kampung halamannya.

    ”Namun ditengah enaknya menjadi seorang mahasiswa, tiba-tiba dia dikejutkan oleh peristiwa yang membuatnya down, “ waktu itu semester 4 dan besoknya akan ada ujian tengah semester, tiba-tiba saya  mendapat telepon dari keluarga di kampung kalau ayah saya telah meninggal dunia, hal itu membuatnya syok apalagi peran dari seorang ayah yang membuatnya bisa kuliah dikampus yang ia idam-idam kan. Tak butuh waktu lama setelah mendengar kabar itu,saya langsung memesan tiket pesawat untuk pulang kampung.” ujar Alfin

    “Namun terlepas dari setiap suka ataupun duka yang saya alami, kita sebagai manusia tidak boleh larut dalam tangisan, kita harus bangkit dan fokus pada tujuan awal kita.  Ada salah satu kalimat yang membuat saya tetap bertahan sampai saat ini, kalimat itu diucapkan oleh ibu saya “ tetap sabar nak, kita hanya penjual kacang tanah, kalimat itu menjadi  motivasi saya untuk bisa lulus dengan baik”. ungkap Alfin.

     Dalam penutupnya saat diwawancarai, dia memberikan beberapa tips kepada sesama perantau lebih khusus perantau baru yaitu berdoa dan membantu :

Jangan Pernah Lupa Untuk Berdoa

    Doa sangat penting bagi anak perantau, apalagi kalu ditengah-tengah keadaan sulit.Jangan pernah lupa berdoa  kepada Tuhan minta kepada beliau agar diberikan kekuatan dan kesehatan.

Harus Pandai Mengelola Uang

    Sebagai anak perantau ketika melihat hal-hal yang baru apalagi itu belum pernah ada di kampung, jadi harus melatih  untuk menahan  diri, pergunakan uang untuk kebutuhan penting-penting saja.

Saling Membantu

    Membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan sebenarnya kita sedang membantu diri kita sendiri, semisal ketika anda membantu orang lain dan pada suatu waktu anda mengalami kesulitan mungkin orang yang telah kita bantu bisa membantu kita juga ataupun lewat orang lain.

Perbanyak Baca Buku

    Salah satu kendala yang sering dialami oleh anak perantauan lebih khusus dari Flores adalah bahasa, kecenderungan menggunakan bahasa ibu sewaktu di kampung membuat penguasaannya terhadap bahasa Indonesia bisa berkurang.Dengan memperbanyak baca setidaknya bisa menambah kosa kata anda.



Komentar