Potret Seorang Pemain Profesional Mobile Legends

Penulis : Keisya Natalia | Editor : Maria Atakelan

SURABAYA, ZkeptiC - Seperti yang kita ketahui, game Mobile Legends menjadi populer belakangan ini di kalangan masyarakat, khususnya bagi pecinta game MOBA. Banyaknya jumlah peminat yang tersebar di wilayah nusantara, mulai dari anak-anak usia dini yakni 10 Tahun hingga orang dewasa dengan usia rentan 20 Tahun sampai kurang lebih 35 Tahun. Berkat kepopulerannya dalam menciptakan game MOBA serta teknik marketing yang mampu menarik atensi banyak pemain gamers diluar sana, Mobile Legends mampu menciptakan pemain-pemain professional yang dimana para pemain professional ini dinilai jauh lebih unggul dibandingkan pemain yang lainnya, ditinjau dari segi keterampilan dalam bermain, kecermatan dalam menyusun strategi. 


Saifullah Yudha Noorman Rachmaddany. Seorang mahasiswa jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Angkatan 2021 


Rachmaddany Pemain Mobile Legends

Syandika Firmansyah Putra. Seorang pelajar lulusan SMA Hang Tuah Sidoarjo Angkatan 2022.

Syandika Pemain Mobile Legends

Keduanya pernah menjadi seorang pemain profesional Mobile Legends, walaupun saat ini mereka tak lagi begitu menekuni dirinya sebagai seorang pemain yang mencurahkan banyak waktu untuk bermain Mobile Legends seperti dulu. Akan tetapi, terdapat kenangan dan juga nilai moral yang dapat diambil dari sebagaimana pengalaman mereka dahulu saat menjadi pemain profesional, dengan harapan, dapat menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi pemain-pemain game Mobile Legends diluar sana untuk terus berkembang mengasah skill dan tidak pantang menyerah terhadap kemungkinan yang terjadi. 


Saifullah Rachmaddany bercerita awal mula dirinya memiliki passion untuk bermain game Mobile Legends dimulai sejak tahun 2017, dimana pada saat itu, Mobile Legends banyak menarik atensi para gamers melalui penggunaan sistem analog yang merupakan media penggerak jalannya permainan. Jika biasanya sistem analog terdapat pada game layar lebar atau komputer (PC) Waktu itu, Mobile Legends berhasil mengembangkan adalah game mobile pertama yang menggunakan sistem analog. Dan alhasil, berkat rasa penasarannya tersebut, menariknya juga untuk mencoba memainkan game Mobile Legends juga bersama dengan teman-temannya. Diawali dengan tingkat dasar, yakni mengikuti pertandingan antar klan bersama teman-temannya di tahun 2020. Klan merupakan istilah yang biasa disebutkan oleh pemain Mobile Legends sebagai pengenalan identitas dari tim mereka. Berkat skill dan hobi yang ditekuninya, beliau berhasil terpilih menjadi salah seorang anggota yang mewakili game Mobile Legends tingkat sekolah jenjang SMA. 


Hal ini sedikit berbeda dengan yang dialami oleh Syandika. Jika Rachmaddany tertarik untuk mencoba game analog Mobile Legends, Syandika berpikir sebaliknya, dimana Syandika saat itu tidak tertarik untuk mencoba, lantaran sedikit awam baginya mendapati game sistem analog pertama di handphone. Syandika merasa kurang yakin jika game analog dapat menjangkau perangkat hp. “Asline aku yo bingung, emangnya kalau game pakai sistem analog itu bisa ta dipakai di hp? Ga lemot? Di PC aja kadang masih susah buat ngontrolnya.” Kata Syandika. Sampai akhirnya, Syandika pun mencoba untuk bermain mobile legends bersama teman-teman sekelasnya hingga berkembang menjadi seorang pemain professional tingkat kecamatan tempat tinggalnya. 


Walau menjadi seorang pemain profesional Mobile Legends, tentu seiring berkembangnya waktu, jalan yang ditempuh tidak mudah. Berbagai halangan, rintangan, serta pengorbanan tidak terlepas dari perjalanannya. Semasa menjalankan profesi sebagai seorang pro gamer, tentu dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Rachmaddany memberi kesaksian melalui sebuah wawancara via zoom bahwa ia bisa menghabiskan waktu bermain game mobile legends ini sebanyak 6-7 jam sehari, “Biasanya saya bermain game mobile legends ini sekitar 6-7 jam sehari, tapi tidak diwaktu yang beruntun, ada saat-saat tertentu seperti waktu jam pembelajaran kosong di sekolah atau setelah belajar. intinya dalam 24 jam ini, total waktu bermain saya terhitung sekitar 6-7 jam.” hal ini sedikit berbeda dengan waktu bermain yang dialami Syandika. Syandika sendiri bersaksi bahwa ia kurang lebih bermain sekitar 3-4 jam di waktu yang beruntun, tepatnya setelah menyelesaikan aktifitas belajarnya di malam hari. Sebelum tidur, Syandika menyempatkan dirinya untuk bermain Mobile Legends.  


Lalu bagaimana dengan tanggapan orang tua terhadap kedua remaja ini terkait hoby anaknya yang saat itu kecanduan bermain game Mobile Legends. Dari sudut pandang yang disampaikan oleh kedua pihak narasumber memiliki tanggapan yang sama. Pada intinya, mereka sedikit mengalami kekhawatiran terhadap kondisi fisik dan akademik anaknya. Ditinjau dari segi fisik, mereka sempat khawatir apabila anaknya tidak cukup tidur, ditambah lagi jadwal sekolah dan belajar yang padat, jika tidak menjaga kondisi fisiknya dengan baik, akan terjadi kelemahan fisik seperti sakit dan kondisi tubuh tidak fit, sedangkan dari segi akademik, mereka khawatir anak mereka mendapatkan nilai yang buruk di sekolah, tidak mampu bersaing dengan teman-temannya. Namun, terlepas dari itu semua, kedua orang tua mereka tetap mempercayakan kembali kepada anak-anaknya, dimana mereka mengharapkan agar anaknya dapat membagi waktu antara bermain dan belajar sesuai dengan porsi mereka. 


Terlepas dari itu semua, kedua pemain professional Mobile Legends ini menyampaikan beberapa harapannya bagi para pemain Mobile Legends lainnya dan juga sebagian pihak e-sports di Indonesia terkait dengan game Mobile Legends. “Semoga untuk kedepannya, terdapat event yang lebih banyak lagi, dimana pada event ini nanti, dapat mencakup pemain yang lebih luas. Agar dapat mengetahui bahwa sebenarnya masih banyak pemain diluar sana yang mungkin saja memiliki tingkat skill yang bagus, namun masih belum terlihat.” Ucap Saifullah Yudha Noorman Rachmaddany, salah seorang mahasiswa jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. “Ya, aku sih cuman bisa berharap, semoga ada pemain-pemain unggulan lagi yang lahir sebagai generasi penerus e-sports, dan juga untuk e-sports sendiri semoga dapat terus berkembang dalam memelihara serta membimbing pemain-pemain professional agar kedepannya bisa lebih berkembang lagi.” ujar Syandika 



Komentar