Penyuluhan serangga penghancur sampah organik di gereja SMK Surabaya oleh Tim BSF

penulis: Carmenia Mewengkang | Editor: Krisantus Brillian

ZKEPTIC, SURABAYA Tim BSF di gereja SMK Surabaya merupakan tim sukarela yang memiliki ide kreatif untuk membudidayakan limbah makanan dan buah-buahan yang ada di gereja menjadi hal yang bermanfaat. Ide mereka disalurkan melalui budidaya magot yang kaya akan protein dan memiliki manfaat yang tinggi. Budidaya magot ini dilakukan oleh tim BSF gereja SMK Surabaya sekitar 2 tahun lalu tepatnya pada masa pandemic tahun 2020. Melihat limbah makanan yang ada di gereja menyebabkan menumpukan sampah akhirnya dilakukan budidaya magot yang berjalan sampai saat ini.

Ari Santoso selaku Ketua BSF, Kota Surabaya (24/05/2022)


Tentang magot sendiri Ari Santosa selaku ketua BSF pelaksana budidaya magot  menceritakan awalnya budidaya ini berkembang di daerah Amerika Serikat dan juga Eropa. Manfaatnya yang sangat besar dan dilirik oleh tempat lain, sehingga magot juga mulai dikembangkan di Prancis Selatan. Setelah berapa waktu dan perkembangan, akhirnya magot dibawah ke Indonesia pertama kali di daerah Jawa Barat sana dan mulai berkembang di daerah Indonesia lainnya. Magot ini memang tidak langsung di kenal luas oleh masyarakat Indonesia tapi seiring berjalannya waktu budidaya magot berkembang sampai ke bidang ekonomi. Siklus dari magot itu sendiri sampai menjadi lalat Kembali kira-kira mencapai 45 hari.

“ya bisa dibilang siklus ini tergolong cepat karena hanya membutuhkan waktu 45 hari dari telur sampai Kembali bertelur” ujar Ari ketua BSF. Jadi proses awalnya saat Jantan sudah selesai Kawin dengan Betina, Si Jantan akan mati dan setelah Betina bertelur, Betina juga akan mati. Satu kali proses bertelur, Betina bisa menghasilkan sekitar 200-600 butir telur setelah itu betina akan mati. Siklus selanjutnya, telur akan menetas dan menjadi larva (baby magot). Empat belas hari kemudian dari larva berubah menjadi pupa “jadi pupa ini modelnya seperti kepompong aga sedikit mengeras” jelas Ketua BSF itu. dari pupa menjadi pra pupa lalu Kembali menjadi lalat untuk Kembali berbudidaya.

Magot ini berbeda dengan belatung “kalau magot tentu berbeda dengan belatung, jadi belatung itu cara menggeliatnya berbeda ya dan jujur saya sedikit jijik melihat belatung” ujar Ari sambal sedikit tertawa. Ciri dari magot ini pergerakannya sedikit lebih lambat dan jika diperhatikan warna magot sedikit kecokelatan. Sedangkan belatung lebih berwarna putih. Ari Santoso juga memberikan tips tentang perawatan magot yang baik “biasanya magot itu mencernah makanan yang sudah halus, jadi lebih ke semi bubur akan diserap bagus oleh magot sehingga memberikan kualitas yang baik”. Jadi limbah. Pemeliharaan magot juga bergantung dengan kondisi dan situasi tentunya tapi akan lebih baik jika limbah makanan yang diberikan kepada magot yang bisa dengan cepat dicernah.

Istagram @BSF.magot, kota Surabaya (01/02/2022)

Tim BSF di gereja SMK Surabaya ini membudidaya magot juda melihat dari manfaat apa yang didapat. Magot ini memiliki sumber protein yang sangat tinggi, selain itu magot juga bisa dijadikan pakan makanan untuk unggas seperti ayam, angsa bahkan juga bisa dijadikan makanan ikan lele dan ikan gurami. Magot juga memiliki manfaat untuk tepung, “magot juga bisa dibuat tepung” kata Ari. Dibidang kecantikan, magot ini bisa dijadikan bahan pokok untuk kebutuhan kosmetik. Tim BSF gereja SMK Surabaya terus mengembangkan budidaya ini bahkan untuk dikenal mereka membuat beberapa media sosial seperti youtube dan Instagram, untuk informasi Magot dan budidayanya dapat diakses di chanel youtube BSF.Samaku dan Instagram @BSF.Samaku.

Komentar