Mencapai Hidup Bahagia Hingga Masa Tua

 Penulis : Agnes Putri, Tirza Larasati | Editor : Nethania Regine

              Rosdiana, bahagia hingga masa tuanya di kediamannya sendiri. (ZkeptiC/18 Mei 2022)

SURABAYA, ZKEPTIC - Di tengah teriknya matahari Kota Surabaya, tepatnya di jalan cipta menanggal dalam 3A tepat di belakang rumah susun Menanggal, terdapat rumah minimalis bercat yang tampak asri. Halaman yang dipenuhi berbagai jenis tumbuhan hijau dan pohon rindang dengan tanah berbatu semakin menambah kesan sejuk pada rumah  yang terlihat nyaman itu. Pada Rabu (18/05/2022) tim reporter Zkeptic mengunjungi salah satu lansia di daerah Menanggal, Surabaya. Memang tidak mudah untuk mewawancarai langsung lansia belia ini. Sulitnya menyesuaikan waktu untuk mengunjungi griya asri tersebut, hingga akhirnya kami bisa bertemu langsung dengan lansia ini. 

    

    Namanya secantik parasnya, Rosdiana Nento atau lebih dikenal dengan Ibu Ali, anak kedua dari lima bersaudara yang memiliki darah asli Gorontalo. Meskipun berasal dari Gorontalo, namun Rosdiana sudah merantau di Surabaya sejak tahun 1963 hingga saat ini. Separuh hidupnya dilalui di Kota Pahlawan bersama suami dan anak-anak tercinta. 


    Di kota ini juga dia menemukan cinta pertamanya. Tambatan hatinya yang juga sesama warga Gorontalo di Surabaya, hingga pada tahun 1968, Rosdiana dan suaminya memutuskan menikah. Dari pernikahannya, Rosdiana dikaruniai tiga orang putra. Putra pertama dan ketiganya sudah berumah tangga dan berada di luar Pulau Jawa. Saat ini Rosdiana tinggal bersama putra keduanya. 


    Meskipun terpisah ratusan kilometer dari kedua putranya, namun jarak tidak bisa menghapus keharmonisan keluarga Rosdiana. Kehangatan keluarga masih berlangsung meskipun melalui smartphone. Tak jarang juga perempuan berusia 64 tahun ini berkumpul bersama keluarga, saudara, dan bertemu dengan cucu-cucunya di hari raya Lebaran. Di usianya yang tak lagi muda, Rosdiana masih tetap sehat dan kecantikan masih membingkai wajahnya. Meskipun keriput sudah terlihat, namun kebahagiaan tidak bisa ditutupi dari wajahnya. 


    Arti kebahagiaan menurut Rosdiana yaitu saat dirinya menikmati hidup damai di masa tuanya. 

“Kebahagiaan ya pokoknya bisa sehat dan dengan damai di masa tua, menikmati hidup apa adanya, bersyukur, nggak usah mikirkan yang macam-macam, kesehatan nomor satu.” ujar Rosdiana

    Rosdiana aktif dalam acara lansia yang rutin diadakan. Ini direkam ketika dirinya menunjukkan beberapa fotonya ketika di Gunung Kelud, Wisata Sunan Ampel, dan Monumen Kapal Selam (Monkasel) membuktikan bahwa usia tidak menghalangi semangat dan kebahagiaannya. Belum tentu kita para kaum muda bisa sebahagia dan tetap semangat seperti Rosdiana. 

  

  Saat dirumah, tidak lantas membuat Rosdiana berdiam diri. Seluruh kegiatan rumah tetap dilakukannya sambil menjalankan hobinya berkebun. Jika mengunjungi rumah beliau, akan langsung terlihat berbagai macam tanaman yang ditanam dan dirawat sendiri oleh Rosdiana, tak jarang juga perempuan belia ini membagikan hasil tanamannya ke tetangganya.


    Usia lanjut tetapi jiwa muda tetap aktif, itulah kata yang tepat untuk Rosdiana Nento yang rajin membantu di posyandu lansia Wulan Erma (Warga Usia Lanjut RW Lima). Ingatannya yang masih tajam membuat dia hafal seluruh jadwal posyandu lansia Wulan Erma yang dibantunya. Menurut perempuan kelahiran Gorontalo ini, hal yang membuat bahagia dimasa tuanya adalah saat jalan-jalan, berkumpul dan membantu orang lain. Kunci sehat adalah kebahagiaan, terlalu larut dalam masalah bisa menyebabkan penyakit. Oleh karenanya, Rosdiana menghadapi masalah yang dialami dengan shalat, membawa masalah dalam doa untuk menemukan jalan keluar, dan tetap bahagia bagaimanapun keadaannya, jangan sampai masalah mengganggu kebahagiaan. Rosdiana juga berkata, masalah apapun yang dihadapi jangan sampai orang lain tahu, lebih baik diselesaikan sendiri.


Tim ZkeptiC bersama Rosdiana dan Murwani selaku Perawat Gerontik. (ZkeptiC/18 Mei 2022)


    Selain Rosdiana, Murwani yang merupakan perawat gerontik juga turut bersama kami saat di kediaman asri perempuan yang sudah tidak lagi muda ini. Murwani yang merupakan mantan perawat di Rooms Katholiek Ziekenhuis (RKZ) Surabaya selama lebih dari satu dekade dan akhirnya memutuskan untuk mulai mengabdi ke masyarakat pada tahun 2019. 

“Memang setiap perjalanan mengabdi kepada masyarakat tidaklah mudah, tetapi kami niat untuk mengabdi, ya harus dijalani dengan lapang dada. Khususnya merawat lansia memang harus ekstra” utas wanita yang tahun ini menginjak usia 54 tahun. Rosdiana merupakan salah satu lansia yang dibantu oleh Murwani, namun karena kemandirian lansia bahagia ini, tidak setiap kegiatannya didampingi oleh Murwani. 


“oma ini masih seperti gadis, nglencer sendiri, ke pasar sendiri, masak sendiri, semuanya masih serba mandiri, dan sudah saya anggap orang tua saya sendiri”. 

Wanita kelahiran Surabaya, 2 Desember 1968 ini mengaku memiliki kegiatan lain selain mengabdi kepada lansia. “Saya juga bergabung bersama kader kesehatan di Kelurahan Menanggal. Kegiatannya banyak sekali, hampir setiap hari saya bisa keluar rumah terus.” 


Tim reporter dari ZkeptiC berhasil mengikuti keseharian mantan perawat yang sangat aktif ini selain membantu Rosdiana. Mulai dari terbitnya sang mentari, ibu 3 anak ini mengikuti senam bersama warga RW 05 Kelurahan Menanggal, lalu mengikuti pemeriksaan jentik bersama kader-kader lain, hingga matahari sudah berada di atas kepala, Murwani yang kerap disapa Nanik oleh warga sekitar ini tak kunjung lelah. 

Semangatnya untuk mengabdi dalam masyarakat seakan seperti roda yang terus berputar menikmati naik turunnya hidup. “Meskipun hampir setiap hari saya pergi ke luar rumah, tugas saya sebagai Ibu juga masih tanggungjawab saya” ujar wanita asli Surabaya ini. “Ayahnya anak-anak, sama kedua anak saya selalu membawa bekal, jadi otomatis saya harus memasak untuk mereka. Sebelum saya beraktivitas di lingkungan, saya harus memastikan bahwa keluarga saya terpenuhi dahulu kebutuhan fisik dan psikologisnya”. 


Mantan tenaga medis RKZ ini juga menyinggung soal kebahagiaan, “menurut saya, bahagia itu bisa dirasakan dimana saja. Kebahagiaan bisa dinikmati ketika kita menikmati hidup. Jika kita hanya menggerutu, bergumul saja, itu akan menghambat kebahagiaan. Tetapi jika kita bisa merefleksikan atau menyalurkan problem dalam diri kita kepada aktivitas yang positif, kebahagiaan akan muncul. Toh baik diri kita sendiri maupun orang lain bisa sama-sama merasakan suasana bahagia yang timbul dari dalam diri kita sendiri.” Ujarnya kepada tim ZkeptiC. 


Pada intinya, siapapun kita, usia berapapun kita, bagaimana kondisi ekonomi dan sosial kita, kebahagiaan adalah yang paling utama. Dengan bahagia, semua masalah dalam diri akan memudar dengan sendirinya, meskipun masalah itu belum sepenuhnya usai, setidaknya masih ada alasan untuk tetap tersenyum. 








Komentar