Masalah Kesehatan Mental ditengah pandemi

 Penulis: Krisantus Brillian, Naomi Hnedrawan | Editor: V. Andito.D.B

ZKEPTIC, SURABAYA - Kondisi mental remaja dan anak di Indonesia saat ini memprihatinkan terbukti dari data kesehatan 2007 yang mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional pada kategori anak dan remaja sebesar 11,6 % yaitu dengan jumlah sekitar 19 juta Beberapa kasus di kota mencerminkan bahwa kasus kesehatan mental anak remaja tidak hanya terjadi pada satu jenjang pendidikan saja semisal SMA, akan tetapi kasus tersebut dialami siswa sejak dibangku TK hingga perguruan tinggi Kesehatan mental menurut merupakan status mental individu yang berfungsi secara optimal. Kesehatan mental anak seringkali diabaikan para orang tua. Padahal jika ingin generasi muda yang berkualitas, hal tersebut harus menjadi perhatian utama. Anak-anak membutuhkan dukungan untuk mencegah peningkatan depresi dan gangguan mental lain karena kesehatan mental anak dan remaja memiliki kaitan erat dengan keberhasilan akademik.

Contoh kasus : Seseorang yang menggunakan komputer terlalu lama dapat mengakibatkan gangguan fisik yang lemah dan bahkan dapat mengakibatkan obesitas.

Yanuar Ishaq Efendi, kota surabaya (25/04/2022)

Bagaimana ciri-ciri orang yang terkena kesehatan mental Lalu apa penyebabnya Menurut Afif Kurniawan dosen Psikologi Unair  ciri-cirinya terjadi di 4 area pertama disfungsi, adalah area yang terjadi di kehidupan sehari-hari, artinya akademik terganggu, pekerjaan terganggu, kedua distress adalah tekanan-tekanan yang susah dikendalikan terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan bersifat wajar, ketiga disability adalah mulai tidak mampu melakukan yang sifatnya rutinitas contoh bangun terganggu, makan minum terganggu, istirahat waktu kerja mulai terganggu, keempat discomfort adalah ketidaknyamanan baik dirinya ke orang lain maupun orang lain ke dirinya.
Menurut Hanny guru bimbingan konseling SMA Ciputra 1. menunjukan perilaku yang tidak wajar secara konsisten tanpa alasan yang logis 2.memiliki proses /kemampuan berpikir yang tidak normal 3. Mental seseorang tidak dapat berfungsi dengan baik seperti orang pada umumnya (tidak dapat  melakukan aktifitas sebagaimana seharusnya).

     Bagaimana cara  menjaga kesehatan mental di pandemi ini ? menurut Afif Kurniawan dosen Psikologi Unair  di pandemi kita selalu memiliki banyak tantangan yang lebih besar pada isu kesendirian jadi isolation, contoh ketika sakit atau terjangkit covid 19 kita harus menjaga jarak untuk menjaga keamanan, work from home membuat kesehatan mental kita jadi beresiko mengalami persoalan-persoalan khusus stress karena dinamika berubah, faktor ekonomi salah satu cara menjaganya kita harus adaptif virusnya ini tidak bisa kontrol perilaku apa yang kita lakukan untuk menghadapi pandemi ini mau vaksin atau tidak vaksin mau protokol kesehatan kah itu lah yang bisa kita kontrol pilihannya ada di kita jadi cara menjaga kesehatan mentalnya adalah menghindari berita yang simpang siur yang hoax beritanya, mengendalikan pikiran yang tepat.
Menurut Hanny Guru bimbingan dan konseling SMA Ciputra adalah,

     Pertama, Cari cara untuk tetap interaksi dengan orang lain Di masa pandemi ini memaksa orang untuk tidak berinteraksi langsung, sehingga mereka terisolasi. Akan tetapi manusia tetap makhluk sosial, kita perlu interaksi dengan org lain untuk tetap HIDUP. Jadi usahakan mencari alternatif cara interaksi seperti zoom, atau bisa saja secara langsung dengan mematuhi protokol. Kesepian adalah salah satu emosi yang bisa membawa seseorang ke kecemasan atau depresi,

    Kedua, Olahraga dan tetap aktif Sebagian besar pekerjaan diubah menjadi digital, sehingga kita duduk melihat screen di waktu yang lama. Coba untuk lakukan olahraga favorit minimal 2 hari sekali. Selain membantu badan kita tetap fit, juga bisa membantu tubuh mengeluarkan endorfin (hormon bahagia, yg membantu menekan depresi).

     Upaya dan aktivitas apa yang digunakan untuk menunjang kesehatan mental? Menurut Afif Kurniawan dosen Psikologi Unair upaya yang menyeimbangkan 3 faktor pikiran,perasaan,dan perilaku. pikiran, pikiran harus melakukan pendekatan positif, Perasaan, hindari terlalu lama meyakini bahwa ada suatu kondisi yang buruk yang kita alami terus-menerus kita akan menjadi yang orang yang beruntung dan seterusnya suatu perasaan harus kita kendalikan agar tidak berpengaruh pada hal negatif anda sedih sedih boleh ada alasannya kalau tidak ada buat apa kita sedih jadi upaya yang bisa dilakukan untuk emosi adalah dengan terus mengukur suasana perasaan dan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.
Menurut Hanny guru bimbingan dan konseling SMA Ciputra *Interaksi dengan orang lain, *olahraga, *belajar cara stress coping ( memahami apa sumber stress lalu menentukan cara mengatasi yang tepat. Karena kebanyakan masalah kesehatan mental berawal dari stress)
*asupan bergizi (badan sehat = mental sehat).

     Apa sajakah yang dapat mempengaruhi bagi kesehatan mental masyarakat di masa pandemi Covid-19? Menurut Afif Kurniawan dosen Psikologi Unair   bermacam-macam pengaruhnya pertama, kebijakan, stigma, tingkat kepatuhan, perubahan-perubahan yang terjadi akibat Covid-19 secara langsung. Menurut Hanny guru bimbingan dan konseling SMA Ciputra Hubungan dan interaksi dengan orang lain, aktivitas yang dilakukan, asupan makanan, dan pengalaman orang itu saat  pandemi (misalnya: dia kehilangan orangtua karena covid).

     Mengapa kesehatan mental sangat penting untuk memberikan kontribusi yang baik pada komunitas yang mampu berpikir positif ? Menurut Afif Kurniawan dosen Psikologi Unair  karena sebenarnya kemampuan komunitas berpikir positif adalah kunci keberhasilan kesehatan mental masyarakat, banyak berdialog dan berdiskusi dengan pakar.

 Kesehatan Mental Secara Spesifik

Gangguan Bipolar

       Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan yang drastis pada suasana hati. Penderita gangguan ini bisa merasa sangat bahagia kemudian berubah menjadi sangat sedih. Berdasarkan data World Health Organization di tahun 2017, ada sekitar 45 juta orang di seluruh dunia yang menderita gangguan bipolar. Gangguan ini merupakan salah satu penyebab utama cacat dan kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Gangguan bipolar dapat diderita seumur hidup sehingga mempengaruhi aktivitas penderitanya. Namun, pemberian obat-obatan dan psikoterapi dapat membantu penderita menjalani kegiatan sehari-hari.

 Gejala utama gangguan bipolar adalah perubahan suasana hati (mood) yang drastis. Perubahan mood ini bisa terjadi dalam hitungan jam, hari, atau bulan.

Gejalanya secara umum meliputi:

      Perasaan bahagia atau antusias, Semangat yang menggebu-gebu, Berkurangnya minat pada suatu kegiatan atau pekerjaan, Sulit tidur atau insomnia, Perasaan bersalah secara berlebihan, Penyebab gangguan bipolar belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat faktor genetik. Selain itu, faktor lingkungan sekitar dan gaya hidup juga dapat menyebabkan seseorang terkena bipolar.

 Metode pengobatan yang dapat dilakukan berupa pemberian obat-obatan dan psikoterapi.Pengobatan gangguan bipolar ini bertujuan untuk mengurangi frekuensi munculnya gejala, membantu penderita kembali beraktivitas seperti biasanya, dan menurunkan risiko mengalami gangguan kesehatan lainnya.

 

Hingga saat ini, belum ada metode yang dapat mencegah gangguan bipolar. Namun, untuk mengurangi kambuhnya gejala, penderita dianjurkan untuk rutin mengonsumsi obat-obatan sesuai resep dokter atau menjalani psikoterapi.

 

Merawat seseorang dengan gangguan bipolar tidak semudah yang dibayangkan. Jika Anda memiliki pasangan, orang tua, anak atau teman dari seseorang yang memiliki kondisi ini. Tentu membuat stres bagi semua orang yang mengetahuinya. Namun jangan khawatir, ada beberapa cara untuk membantu merawat penderita bipolar sebagai berikut:

  1. Bersikap Terbuka
     Memiliki sikap terbuka dengan penderita bipolar dapat membantu mereka merasa didukung dan diterima. Jika Anda belum cukup informasi tentang penderita bipolar atau sulit untuk berbicara, pelajari lebih lanjut dari sumber-sumber lain. Anda dapat mempelajari dari berbagai media baik buku, situs web, atau artikel terkemuka tentang kondisi bipolar. Semakin banyak Anda mengetahui informasi gangguan bipolar maka semakin baik.
  2. Menjadi Pendengar yang Baik
     Anda dapat menjadi pendengar yang baik untuk mereka dan jangan berasumsi semua emosi dan perasaan mereka sebagai tanda penyakit.
  3. Memperhatikan Gejalanya
     Amati gejalanya mungkin sebagian orang tidak dapat melihat jelas gejala bipolar atau gejala bipolar mereka pasif.

 Contoh kasus gangguan bipolar
 Marshanda memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Beberapa tahun silam, perempuan yang akrab disapa Caca itu mengaku kalau dirinya bahkan mengalami perseteruan dengan ibunya sendiri.

Pada 2009, Marshanda didiagnosa mengidap bipolar, sebuah gangguan mental yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, mulai dari posisi terendah atau yang biasa disebut sebagai depresif, hingga tertekan ke posisi tertinggi atau yang biasa disebut mania.

Marshanda menyatakan bahwa ia membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk bisa mengakui bahwa dirinya memiliki bipolar. Ia sempat berada di masa penolakan. Hingga pada akhirnya, Marshanda bisa menerima kenyataan itu dan rajin kontrol ke psikiater, sehingga gangguan bipolar yang dialaminya bisa berangsur stabil.

“Bipolar ini, menurut para dokter dan psikiater di dunia, adalah sebuah disorder yang tak bisa disembuhkan. Sekarang pun aku masih ada gangguan itu, tapi karena sudah belajar menerima dan berdamai dengan keadaan, aku bisa tenang ketika tendensi buat kambuh,

Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan yang drastis pada suasana hati. Penderita gangguan ini bisa merasa sangat bahagia kemudian berubah menjadi sangat sedih. Berdasarkan data World Health Organization di tahun 2017, ada sekitar 45 juta orang di seluruh dunia yang menderita gangguan bipolar. Gangguan ini merupakan salah satu penyebab utama cacat dan kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Gangguan bipolar dapat diderita seumur hidup sehingga mempengaruhi aktivitas penderitanya. Namun, pemberian obat-obatan dan psikoterapi dapat membantu penderita menjalani kegiatan sehari-hari. 

Gejala utama gangguan bipolar adalah perubahan suasana hati (mood) yang drastis. Perubahan mood ini bisa terjadi dalam hitungan jam, hari, atau bulan.

Gejalanya secara umum meliputi:

Perasaan bahagia atau antusias, Semangat yang menggebu-gebu, Berkurangnya minat pada suatu kegiatan atau pekerjaan, Sulit tidur atau insomnia, Perasaan bersalah secara berlebihan, Penyebab gangguan bipolar belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat faktor genetik. Selain itu, faktor lingkungan sekitar dan gaya hidup juga dapat menyebabkan seseorang terkena bipolar.

 

Metode pengobatan yang dapat dilakukan berupa pemberian obat-obatan dan psikoterapi.Pengobatan gangguan bipolar ini bertujuan untuk mengurangi frekuensi munculnya gejala, membantu penderita kembali beraktivitas seperti biasanya, dan menurunkan risiko mengalami gangguan kesehatan lainnya.

 

Hingga saat ini, belum ada metode yang dapat mencegah gangguan bipolar. Namun, untuk mengurangi kambuhnya gejala, penderita dianjurkan untuk rutin mengonsumsi obat-obatan sesuai resep dokter atau menjalani psikoterapi.

 

Merawat seseorang dengan gangguan bipolar tidak semudah yang dibayangkan. Jika Anda memiliki pasangan, orang tua, anak atau teman dari seseorang yang memiliki kondisi ini. Tentu membuat stres bagi semua orang yang mengetahuinya. Namun jangan khawatir, ada beberapa cara untuk membantu merawat penderita bipolar sebagai berikut:

  1. Bersikap Terbuka
  2.  Memiliki sikap terbuka dengan penderita bipolar dapat membantu mereka merasa didukung dan diterima. Jika Anda belum cukup informasi tentang penderita bipolar atau sulit untuk berbicara, pelajari lebih lanjut dari sumber-sumber lain. Anda dapat mempelajari dari berbagai media baik buku, situs web, atau artikel terkemuka tentang kondisi bipolar. Semakin banyak Anda mengetahui informasi gangguan bipolar maka semakin baik.
  3. Menjadi Pendengar yang Baik
  4.  Anda dapat menjadi pendengar yang baik untuk mereka dan jangan berasumsi semua emosi dan perasaan mereka sebagai tanda penyakit.
  5. Memperhatikan Gejalanya
  6.  Amati gejalanya mungkin sebagian orang tidak dapat melihat jelas gejala bipolar atau gejala bipolar mereka pasif.

 Contoh kasus gangguan bipolar
      Marshanda memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Beberapa tahun silam, perempuan yang akrab disapa Caca itu mengaku kalau dirinya bahkan mengalami perseteruan dengan ibunya sendiri.

     Pada 2009, Marshanda didiagnosa mengidap bipolar, sebuah gangguan mental yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, mulai dari posisi terendah atau yang biasa disebut sebagai depresif, hingga tertekan ke posisi tertinggi atau yang biasa disebut mania.

     Marshanda menyatakan bahwa ia membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk bisa mengakui bahwa dirinya memiliki bipolar. Ia sempat berada di masa penolakan. Hingga pada akhirnya, Marshanda bisa menerima kenyataan itu dan rajin kontrol ke psikiater, sehingga gangguan bipolar yang dialaminya bisa berangsur stabil.

     “Bipolar ini, menurut para dokter dan psikiater di dunia, adalah sebuah disorder yang tak bisa disembuhkan. Sekarang pun aku masih ada gangguan itu, tapi karena sudah belajar menerima dan berdamai dengan keadaan, aku bisa tenang ketika tendensi buat kambuh.

Komentar