SURABAYA, ZKEPTIC - Tampil mengenakan busana dari karakter yang disukai menjadi kebanggaan tersendiri bagi para cosplayer. Namun, menjadi cosplayer tidak hanya sekadar mengenakan kostum karakter yang diperankan, mereka juga memiliki beberapa kemampuan lain agar semakin menggeluti hobi bermain kostum tersebut. Tidak sedikit juga cosplayer yang terlibat langsung sebagai konseptor kostum yang mereka pakai.
Dunia cosplay atau costume play, tak hanya digandrungi generasi milenial saja. Dari anak-anak hingga lansia pun turut ikut mengekspresikan kesukaannya.
Clarissa Widjaya atau akrab disapa Punipun mengaku sudah terpikat dunia cosplay sejak tahun 2005 ketika ia melihat majalah Animonster.
Event cosplay pertama yang dihadiri oleh Punipun adalah JI Matsuri Hilton pada tahun 2006 bersama teman dan mamanya. “Waktu pertama kali datang itu aku dan Bedaclo ditemenin mama kita, jalan berempat gitu. Mungkin mama kita mikirnya ‘ini anak ikut acara apa sih? Kok rambutnya dispray?’ Jadi waktu itu belum ada wig dan kita warnain rambut sendiri pake spray.” ujar Punipun sambil tertawa.
Cantik dan menarik. Tak disangka, Punipun adalah sosok yang tomboy dan belum mengerti cara berdandan sebelum mengenal dunia cosplay. Ia mengaku terkejut ketika dirinya diajak berfoto bersama pengunjung event.
Meski begitu, Punipun merasa nyaman selama menjalankan hobinya dan berpikiran untuk cosplay hingga tua sambil menyesuaikan karakter dan penampilannya ketika mencapai umur lansia. Ia berkata bahwa kita tidak harus mendapatkan pengakuan orang lain agar merasa senang. Selama kita suka dengan hasilnya, terdapat kepuasan tersendiri ketika bercosplay karakter yang kita sukai.
“Dari cosplay aku nemuin banyak hal yang tidak ku ketahui dari diri sendiri dan bisa menjadi self development. Aku baru sadar ternyata aku menyukai hal yang berbau seni seperti crafting dan suka ngide kalau ini nggak bisa berarti pakai yang lain, bahannya ini, polanya ini, lalu fotografi, sosialisasi. Jadi belajar banyak banget dari cosplay. Berkat cosplay juga aku bisa keliling dunia dan mengunjungi berbagai tempat yang ngga mungkin aku datangi atas dasar keinginanku sendiri, karena bingung juga mau ngapain.” ujar Punipun dengan penuh antusias.
Untuk hobi cosplay ini, Punipun rela mengeluarkan uang sebesar Rp10.000.000,00. Fullset costume dengan harga tersebut yaitu Kobo Kanaeru (VTuber Hololive Indonesia), Layla (Mobile Legends), dll. Dan kostum teribet yang dimilikinya adalah Kobo Kanaeru, wignya yang besar dan kaku membuatnya susah untuk menggerakkan pundak dan tangannya. Untuk kostum belum dicobanya karena masih dalam proses, namun Punipun merasa bahwa kostumnya juga tidak kalah ribet karena bentuknya yang seperti jas hujan.
Meski telah bercosplay secara totalitas tanpa batas, tak membuat Punipun terhindar dari komentar jahat.
Punipun mengatakan bahwa komentar jahat adalah hal yang wajar apabila mengandung kritik yang membangun. Dengan santai, dia cukup mengabaikan komentar negatif tersebut. Kritik membangun yang dimaksud adalah kritik yang memotivasi. Misalnya, ketika Punipun bercosplay namun terlihat lebih berisi atau terlalu kurus di mata kita. Kita dapat menyarankannya untuk melakukan training yang tepat atau diet yang cocok untuknya daripada hanya sekedar berceloteh yang tidak perlu seperti “ih, kekurusan” atau “kegendutan, ah! Ga cocok”.
Layaknya teman sendiri. Punipun menganggap bahwa followers hanyalah bonus dan sudah seperti teman untuk saling mengapresiasi. Hal itu disebabkan karena ia tak menjalani cosplay sebagai profesi, melainkan hanya untuk bersenang-senang dan merupakan sebuah passion.
16 tahun bukanlah waktu yang singkat. Jenuh dan merasa down tentu pernah dialami oleh wanita cantik ini. Namun, ia hanya menganggap santai karena menurutnya sangat tidak relevan membandingkan diri dengan orang lain yang tidak ada habisnya. Lebih baik membandingkan diri yang sekarang dengan yang di masa lampau agar dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik.
“Nah, keluh kesah aku selama menjadi cosplayer, dompet aku langsung tipis karena aku suka mengeluarkan biaya untuk membeli kostum cosplay sendiri daripada menyewa kostum di orang lain. Aku merasa bahwa kostum itu hanya bisa dipakai untuk diriku sendiri dan ngga boleh dipakai oleh orang lain. Dan sekarang aku lebih fokus ke bisnis dan rumah aku, jadi ngga punya banyak waktu untuk crafting seperti saat aku di tahun 2010.” ujar Punipun.
Terdapat berbagai pengalaman berkesan yang dialami oleh Punipun selama menjadi cosplayer, namun yang paling berkesan adalah ketika ia diundang oleh pemerintah Fukuoka sebagai ambassador dan masuk billboard di Shibuya Crossing. Ia pun tidak menyangka bahwa cosplay dapat membawanya ke sana.
Punipun juga berharap komunitas cosplay di Indonesia bisa jauh lebih baik terutama dari segi kualitas, interaksi antar cosplayer, dan tidak ada body shaming.
Komentar
Posting Komentar