| Ramainya tempat makan Rawon Setan di malam hari |
Penulis: Sifra Eunike | Editor: Jeane Khan, Agnes Vania
SURABAYA, ZKEPTIC - Tin… tin… wushh… wushh… Suara klakson kendaraan dan hembusan angin menemani malam Titis yang sedang duduk. Keringat terus mengucur dari dahi Titis, pipi, mata serta wajahnya pun ikut memerah. Meskipun begitu, Titis tetap menyantap semangkuk hidangan berwarna hitam kemerahan di depannya. Titis terlihat begitu menikmati cita rasa pedas dan juga gurih dari hidangan tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah Rawon Setan.
Kurang rasanya apabila tidak mencoba makanan khas saat berkunjung ke suatu daerah. Surabaya merupakan salah satu kota yang terkenal memiliki berbagai macam makanan khas dan tempat makan legendaris. Salah satunya adalah Rawon. Makanan dengan kuah hitam kental dengan isian daging sapi ini sanggup membuat semua orang mabuk kepayang dengan bahan dasar khas kluwek yang membuat kuahnya hitam pekat dan rempah-rempah khas yang dimiliki makanan tersebut. Kluwek sendiri merupakan jenis biji tanaman yang berasal dari pohon kluwek asli Indonesia. Biji tanaman tersebut umumnya berwarna coklat gelap hingga kehitaman. Oleh karena itu rawon sangat khas dengan warna hitamnya.
Salah satu rawon legendaris yang ada di Surabaya ini adalah Rawon Setan. Tempat ini sudah berdiri sejak tahun 1953 hingga sekarang. Jenis lauk yang disediakan juga bervariasi mulai dari potongan daging, jeroan, telur asin, dan juga buntut sapi tergantung dari pengunjung yang memesan. Selain itu, mereka juga menyediakan makanan pendamping, seperti siomay, tahu bakso, dan beberapa jenis kerupuk.
Rawon Setan pertama kali diproduksi oleh kakek dan nenek dari Putri (34) yang saat ini sudah mengambil alih usaha keluarganya. Tempat makan ini dinamai Rawon Setan karena dulu buka pada jam 12 malam dan tutup saat subuh. Pertama kali, Rawon Setan buka di Perkampungan Marriot, lalu pindah di depan perkampungan kaki lima. Dengan semakin berkembangnya Rawon Setan, Putri memutuskan untuk membuka tempat makan 24 jam, ada shift pagi dan ada shift malam.
Berjualan rawon seperti sekarang ini bukanlah sebuah pilihan, namun karena dulu awalnya hanya warung biasa yang menjual berbagai masakan khas Jawa Timur, seperti rawon nasi campur, nasi pecel, dan masakan lainnya. Tetapi seiring berjalannya waktu, menu utama yang paling disukai oleh pembeli yaitu rawonnya, karena memiliki ciri khas tersendiri. Nenek dari Putri yang mengambil bagian dalam memasak sekaligus menyajikan makanan dan kakek dalam bagian membuat minumannya, seperti teh. Lama kelamaan rawon yang dijual tersebut ramai dari mulut ke mulut, bahkan rawon ini sudah menjadi makanan favorit banyak orang sampai ke kalangan artis dan menteri Indonesia.
Salah satu artis yang pertama kali mempelopori untuk makan di Rawon Setan adalah Dorce, sehingga kemudian banyak artis yang makan di Rawon Setan ini. Yang menjadi daya tarik atau ciri khas dari Rawon Setan ini yaitu memiliki rasa yang enak, potongan dagingnya besar, lalu kuahnya yang hitam dan kental yang berasal dari kluwek, bahan dasar rawon itu sendiri.
Selain itu, Putri mengatakan bahwa dalam satu hari Rawon Setan yang mampu terjual sekitar 200-300 porsi. Perjuangan merintis usaha ini tidaklah mudah butuh proses panjang untuk membuat rawon setan menjadi kuliner ikonik di Kota Pahlawan. Awalnya pasangan kakek nenek ini hanya berjualan di warung sederhana tapi sekarang mereka sudah berjualan di sebuah bangunan yang lebih layak.
Perjuangan yang dilakukan sehingga Rawon Setan menjadi salah satu kuliner legendaris dari Surabaya yaitu tidaklah mudah semua perjuangan butuh proses, yang awalnya hanya berjualan rawon di warung biasa tapi sekarang dapat mendirikan tempat makan. Dulu ada beberapa pembeli yang kehabisan rawon, maka penjual memutuskan untuk melebihkan porsi rawon tersebut. Lalu cara yang dilakukan untuk mengembangkan usaha Rawon Setan ini salah satunya dengan tetap menjaga kualitasnya.
Dalam menjalankan usaha Rawon Setan ini tentu terdapat suka dan dukanya. Putri mengatakan, “sukanya itu ramai, rawonnya habis. Kalau dukanya pasti adalah masukan-masukannya setiap orang ada yang kurang apa, kurang pedas, terus kadang ada yang bilang dagingnya kurang empuk. Mungkin kebanyakan yang bilang dagingnya kurang empuk dari yang sudah berusia. Itu aja sih mungkin dukanya. Terkadang dari segi penyajiannya. Segitu aja sih, cuma kita tetap berusaha menjaga kualitas yang lebih baik untuk kedepannya lagi,” kata gadis berjilbab ini.
Tahun 2020 menjadi awal dari pandemi Covid-19 dan masih berlanjut hingga sekarang. Pandemi ini memberikan pukulan yang besar untuk Putri. Menurut Putri, dengan adanya pandemi ini pastinya berdampak pada penjualan Rawon Setan seperti tutupnya tempat makan ini hingga tiga bulan lamanya. Hal ini membuat proses penjualan hanya dapat melalui online saja.
Pembeli Rawon Setan mayoritas juga berasal dari luar kota seperti Jakarta dan lainnya, sehingga susah bagi Putri untuk melayaninya seperti untuk sarana transportasi pesawatnya dan lainnya. Cara yang dilakukan untuk mengatasi dampak dari pandemi covid-19 tersebut yaitu dengan tetap menjaga protokol kesehatan, lalu pada saat diizinkan untuk makan di tempat juga tetap memperhatikan batas pengunjung yaitu hanya sekitar 25% saja dan tempat duduk yang tersedia pastinya juga dibatasi. Putri juga tentunya memiliki harapan yang sangat besar bagi kemajuan penjualan rawon setan. Putri berharap, “semoga rawon yang kita jual nggak berubah, untuk pengunjungnya tambah banyak, laris, dan dari pihak kita juga tetap menjaga kualitas rawon baik dari segi rasa dan penyajiannya gitu,” tutur Putri.
Salah satu pembeli Rawon Setan bernama Titis (45) dari Ponorogo, mengatakan yang membedakan Rawon Setan dengan rawon di tempat lainnya yaitu pertama dari namanya sendiri yang sudah membuat penasaran karena terdapat nama setannya. Hal tersebut yang membuat Titis tertarik untuk singgah. Setelah singgah dan makan, ternyata daging di rawon memiliki ukuran yang besar tidak seperti rawon biasanya dan untuk lauknya sendiri juga bermacam-macam variannya.
| Rawon Setan siap disantap |
Titis mengaku pertama kali mengonsumsi Rawon Setan pada saat beberapa tahun yang lalu dan mulai menyukai Rawon Setan ini sejak pertama kali mencobanya. Titis juga merekomendasikan Rawon Setan ini kepada orang lain karena rasa dagingnya yang enak sekaligus empuk apalagi potongan dagingnya yang besar sehingga dapat merasa puas saat memakannya. Titis juga mengatakan bahwa, “Saya sering mengkonsumsi Rawon Setan. Setiap kali pergi ke Surabaya, saya selalu singgah untuk makan di Rawon Setan ini,” ujar Titis. Titis mengaku mengetahui Rawon Setan ini dari terkenalnya nama Rawon Setan itu sejak lama.
Rawon setan menjadi salah satu kuliner khas kota Surabaya yang wajib dicoba, karena memiliki suatu ciri khas dan keunikan yang beda nih dari kuliner-kuliner yang lain. Rawon Setan sendiri berlokasi di Jalan Embong Malang No. 78, Kec. Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Yuk rek, jok lupa mampir nang Rawon Setan nggih.
Komentar
Posting Komentar