Gurih Pedas Kenikmatan Hakiki dari RW

Penulis: Dea Abigael | Editor: Natasha Tanjung, Monika Leila

                                                           

Hidangan RW Warung Tibers siap disantap
 

BINTUNI, ZKEPTIC - RW adalah makanan khas Manado yang dapat dijumpai di daerah Indonesia Timur dan warung non-halal di daerah Jawa. RW dapat dibuat dari daging anjing, rusa, ular, tikus tanah, dan lain-lain. Dagingnya lembut dan empuk serta memiliki kulit yang kenyal. Wangi dan rasa dari rempah-rempah yang ditumis menyerap ke dalam daging. 

Salah satu warung yang menjual RW dan B2 adalah warung Tibers yang berada di pertigaan Jl. Poros Bintuni-Manokwari SP 3. Dindingnya terbuat dari kayu yang diberi warna biru mencolok dan krem yang menetralkan. Warung ini sederhana, lantainya hanya dilapisi beton tanpa sentuhan keramik. Lampu remang-remang menerangi seisi ruangan. Aroma RW dan B2 tercium saat angin berhembus. Pemilik warung ini adalah Primus Renyaan dan Erfina Mofu yang merupakan pasangan suami-istri. RW yang dijual adalah yang bumbunya sudah disesuaikan dengan rasa yang disukai orang lokal. RW Papua dan RW Manado agak berbeda dari segi bumbu.

“Perbedaannya tuh dari bumbu juga. Bumbu itu yang menentukan. Bumbu macam Manado punya itu dorang harus pakai daun kemangi, batang bawang, kalau kita tidak. Terus ricanya mereka hitung perkilo kalau masak RW,” ujar Primus.

RW dan B2 dimasak oleh istri pemilik warung Tibers, Erfina Mofu. Mereka bersama-sama membuka usaha dari nol dan berhasil menyekolahkan ketiga anak mereka. Selama membuka usaha warung RW dan B2, kesulitan yang dialami adalah stok daging anjing yang sulit dicari. Untuk mengatasi keterbatasan stok daging,  mereka bahkan harus mendatangi rumah masyarakat dan mengetuk pintu rumah dan pintu hati untuk membeli anjing yang sehat karena anjing yang dipelihara dengan baik susah ditemukan. Terkadang mereka mendapat penolakan dari pemilik anjing karena satu dan lain hal. Selain terbatasnya daging anjing, warung sepi pembeli karena pandemi Covid-19. Perkantoran pemerintahan di sekitar warung harus tutup dan masyarakat jarang meninggalkan rumah mereka.

Di daerah Teluk Bintuni, hanya ada 3 warung yang menjual RW dan B2. Warung kedua yang bisa dikunjungi adalah warung Patrecia, yang dikelola oleh Maria Yasinta. Nama warungnya merupakan nama mendiang anak keduanya yang telah meninggal dunia. Warung ini terletak di Jl. Bintuni-Manokwari, Kampung Rosib, SP5. Maria Yasinta biasanya dibantu oleh keponakannya yang bernama Erick. 

           Warung ini berada di pinggir jalan,  berdinding kayu yang dicat hijau dan merah muda. Perbedaan antara warung Tibers dan warung Patrecia adalah pemilihan waktu produksi. Warung Tibers memasak RW dan B2 terkadang di malam hari dan pagi hari sedangkan warung Patrecia memasak selalu di pagi hari kecuali jika ada yang memesan untuk keesokannya maka Maria akan memasak di malam hari. 

Daging anjing yang digunakan oleh kedua warung tersebut adalah daging anjing yang dipelihara masyarakat yang tidak sakit dan harus bersih. Mereka membeli anjing hidup untuk memastikan anjing yang digunakan sehat dan tidak memiliki penyakit kulit. Persamaan yang dengan mudah terpancar dari kedua pemilik warung adalah mereka sangat sederhana dan baik hati. 

Di luar kendala dalam menjalankan usaha, kehidupan mereka berliku-liku dan penuh cobaan. Primus Renyaan beserta istrinya pernah mengalami kecelakaan yang hampir memakan nyawa, sedangkan Maria Yasinta harus merelakan kematian anak dan kakak ipar yang dikasihinya dan sekarang hanya tinggal bersama dengan keponakan dan kakak. Namun demikian, mereka tetap menjalankan usaha dengan sepenuh hati untuk menyejahterakan keluarga mereka. 

“Tante pu anak meninggal waktu sa masih SD. Kadang-kadang sa tinggal dengan tante di sini jaga warung karena de sendirian,” ujar Erick, keponakan Maria.

 Cara mengolah daging anjing menjadi RW sangatlah mudah. Hanya perlu memanaskan minyak goreng dalam wajan kemudian masukan bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbunya berupa lada, cabe rawit, serai, daun salam, bawang putih, bawang merah, garam, jahe, lengkuas, MSG, daun jeruk. Kemudian bisa memasukkan daging ke dalam wajan lalu diaduk agar bumbu merata sempurna pada daging anjing. Proses memasak bisa memakan waktu 25 hingga 35 menit. Kata pemilik warung Tibers, kita hanya perlu menunggu hingga daging terasa empuk dan lembut. 

Kedua pemilik warung memiliki persamaan faktor mengapa mereka membuka usaha RW dan B2. Mereka membuka usaha itu karena ada peluang dan potensi dari masyarakat sekitar yang memang suka memakan daging anjing. Masyarakat lokal sering berburu dan sering memakan anjing dan babi hutan. RW dan B2 sendiri sudah turun-temurun dikonsumsi oleh masyarakat lokal dan bisa dianggap sebagai warisan budaya masyarakat Papua.

 Terkait dengan pandangan masyarakat yang menolak anjing untuk dikonsumsi, baik karena mereka merupakan pecinta hewan atau karena hal tersebut tidak lazim, pemilik warung Patrecia mengharapkan bahwa masyarakat luar pulau Papua untuk menghargai budaya orang lain yang menggunakan daging anjing sebagai bahan makanan. Mereka bebas berpendapat namun harus memiliki sopan santun dan tidak semena-mena melarang sesuatu yang memang sudah turun temurun.

Salah satu pembeli bernama Laura mengatakan bahwa dirinya sering mengonsumsi daging anjing. Namun di daerah tersebut cukup susah untuk menemukan tempat yang menjual RW. Makanan RW dibandrol dari harga Rp40.000-Rp50.000, walaupun tergolong mahal untuk satu porsi, Laura tetap membeli karena market yang menyediakan RW dan B2 hanya sedikit. Di warung RW sering disediakan minum air mineral dingin dan biasa, es extrajoss susu, kuku bima susu,  kopi hitam, kopi susu, es teh, teh hangat, dan es sirup. Namun Laura secara pribadi lebih suka mengkonsumsi Pocari Sweat dan minuman manis-manis.

Salah satu pecinta hewan yang bernama Zephania Ekklesia berpendapat bahwa dirinya sedih saat melihat hewan peliharaan seperti anjing harus dijadikan makanan, karena Ia sempat melihat sebuah video dokumenter di mana terdapat beberapa orang yang menangkap dan membunuh anjing-anjing tersebut. Zepha juga merasa cara membunuh anjing untuk dimakan dengan hewan-hewan lain cukup berbeda, karena saat membunuh anjing, mereka tidak boleh sampai mengeluarkan darah. Sehingga pilihan yang ada adalah dengan membakar hidup-hidup, disetrum, ataupun dipukul. Menurut Zepha itu sangat tidak manusiawi dan Ia juga membayangkan apabila anjingnya yang diperlakukan seperti itu, maka dirinya akan sangat sedih.

Menurut Zepha pribadi, Ia tidak suka melihat orang memakan daging anjing, namun kembali lagi bahwa setiap orang memiliki preferensi masing-masing. Ia tidak dapat memaksa orang untuk tidak mengkonsumsi daging anjing. Ia berharap apabila memang ingin mengonsumsi daging anjing, cara membunuhnya lebih manusiawi seperti halnya saat membunuh ayam, sapi, ataupun hewan lainnya untuk dikonsumsi. Zepha sendiri juga belum pernah mengkonsumsi daging anjing ini dan juga tidak mau untuk mengkonsumsinya. Hal itu dikarenakan yang pertama adalah tidak manusiawi bagi Zepha. 

“Apa yang aku rasain, jujur sedih.  Karena waktu itu aku sempat lihat semacam video dokumenter bagaimana orang-orang itu menangkap, membunuh, dan mengolah anjing,” ujar Zepha.

“Cara mereka membunuh sangat tidak manusiawi. Meskipun anjing itu hewan, tapi itu tidak manusiawi menurutku.” Sambung Zepha. 

Lalu, dikarenakan Zepha juga memiliki anjing dan dirinya merasa ironi apabila memiliki anjing dan menyayangi anjing, namun Ia  memakan daging anjing. Selain itu, Zepha juga merasa anjing bukanlah makanan dan merupakan hewan peliharaan untuk disayang ataupun menjadi teman manusia.

“Aku kan punya anjing dan suka ngebayangin gitu kalau misalnya anjing itu anjingku gitu yang aku sayangi, yang aku tiap hari ajak main gitu. Jadi yah sedih,” imbuh Zepha.

Setiap orang bebas untuk berpendapat dan tidak ada yang salah dari pemikiran mereka. Seperti halnya kita menghargai pendapat orang lain, maka kita juga harus menghargai budaya masyarakat yang ada di sekitar kita. Jangan sampai perkataan kita malah menjatuhkan nilai budaya dan menyakiti hati orang.

Kalau berkunjung ke Papua wajib sekali bagi yang non-Muslim untuk mencoba RW dan B2. Karena makanan ini sudah menjadi budaya masyarakat Papua dan kam bukan sodara Papua kalau belum coba RW, jadi datang sudah kunjungi kitong yang ada di Papua ini jang lihat de pu keindahan alam saja tapi coba de pu masakan juga. Perut kenyang hati juga senang.

                                                         

Komentar