| Ninda ketika sedang di wawancara terkait kenaikan harga minyak goreng. |
Penulis: Natasha Tanjung | Editor: Dea Abigael
ENDE, ZKEPTIC - Harga minyak goreng di berbagai tempat perbelanjaan hingga saat ini masih tergolong mahal dan sulit didapatkan. Harga minyak kemasan berkisar Rp26.000 hingga Rp28.000 per 1 liter. Sementara kemasan 2 liter dipatok seharga Rp51.900 hingga Rp55.200. Kenaikan harga dan langkanya persediaan minyak goreng saat ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat, termasuk para pedagang gorengan. Salah satunya Ninda (22), pedagang gorengan “Kilo 3” di kota Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia juga menerima imbas dari kelangkaan serta naiknya harga minyak goreng, karena selalu menggunakan minyak kemasan untuk menjalankan usaha gorengannya.“Naiknya harga minyak goreng ini sangat berdampak pada penjualan, apalagi selama berdagang kami menggunakan minyak kemasan seperti Sabrina, Fiola, Kayu Manis dan Bimoli”, kata Ninda.
Ninda berjualan mulai pukul 14.00-23.00 WITA, dari Senin hingga Minggu. Setiap hari Ninda menghabiskan 20 hingga 30 liter minyak goreng untuk berjualan. Biaya produksi dapur naik hingga 55% sejak harga minyak goreng meroket.
Ninda mengaku harga minyak goreng saat ini tergolong mahal, dan sulit untuk didapatkan. Selama kenaikan harga minyak goreng, harga minyak dalam kemasan yang didapatkan Ninda bervariasi, berkisar Rp55.000 - Rp65.000 per 2 liter.
Ninda menyatakan bahwa kelangkaan serta kenaikan harga minyak kemasan ini sangat berdampak pada keuntungan penjualan gorengan. “Untuk dampaknya sendiri, terlihat di bagian keuntungan. Karena keuntungan yang kami peroleh saat harga minyak belum naik atau belum langka, kami cukup untuk memberi gaji karyawan, terus untuk keperluan sehari-hari. Kalau sekarang minim sekali. Apalagi kita harus kontrak. Terus bukan hanya minyak saja yang naik, tepung, sayuran, semuanya naik, akibat dari minyak itu naik”, ujar Ninda.
Selain itu, Ninda juga mengaku lebih memilih menggunakan minyak goreng dengan harga yang lebih mahal, namun tidak sulit didapatkan, serta dengan harga yang tetap stabil.
Akibat naiknya harga minyak goreng ini, ia dan para pedagang gorengan lainnya berencana untuk menaikan harga gorengan. “Untuk rencana kedepan memang kami punya rencana, untuk para pedagang khususnya gorengan untuk menaikan harga. Kemarin kami sepakat 4 (gorengan) Rp5.000, dengan harga minyak Bimoli waktu itu masih dengan Rp85.000 untuk 1 jerigen. Sekarang kami mau menaikan harga menjadi 3(gorengan) Rp5.000”, kata Ninda.
Ia juga menyatakan, untuk saat ini tidak mengubah ukuran gorengan karena Ia masih mempertimbangkan konsumennya.“Sampai saat ini ukuran gorengan tetap stabil. Karena kami mengingat tidak ada kenaikan gaji untuk masyarakat umum, buruh juga tidak ada kenaikan gaji, UMR juga tidak naik. Jadi, kami masih mempertimbangkan dengan masyarakat luas lainnya”, tambahnya.
Sebagai pedagang, Ninda berharap agar harga minyak goreng dapat kembali stabil, terutama menjelang hari lebaran.
Hal serupa juga dirasakan Sapto(37), pedagang gorengan “Tahu Petis” yang per hari menghabiskan 10 liter minyak goreng untuk berjualan. Ia berdagang pada hari Jumat hingga Rabu. Semenjak kelangkaan dan naiknya harga minyak, biaya produksi dapur naik hingga 25%.
Sapto mengaku minyak goreng saat ini tidak begitu sulit didapatkan, namun harganya masih tergolong mahal. “Untuk saat ini tidak langkah, cuma harganya melambung tinggi”, ujar Sapto. “Dulu kalau beli bisa dapat 2 jerigen, sekarang hanya dapat 1 jerigen”, tambahnya.
Dampak yang dirasakan Sapto selama kenaikan harga minyak goreng yaitu, ia banyak mendapat keluhan dari pelanggannya karena harga gorengan ikut naik “Pelanggan mengeluh, karena harga tidak bisa seperti kemarin waktu minyak itu masih normal”, kata Sapto.
Sebagai seorang pedagang, Sapto berharap agar harga minyak goreng dapat kembali stabil seperti semula. “Harapan saya, mudah-mudahan normal kembali lah harga minyak gorengnya seperti dulu”, kata Sapto. “Jadi konsumen juga, saling enak lah kita.. yang jual enak, yang beli juga enak”, tambah Sapto.
Komentar
Posting Komentar